30 Nov 2006

Gajah Wong Yogyakarta

22 November 2006,
Together with some friends from Iraq and Serbia, I took dinner at Gajah Wong Restaurant Jogja.
I have been there three times but you know what? I always find something different from time to time.

The electricity was off when we arrived, but then they put sentir (a traditional glass lamp with kerosene) in every corner, adding the exotic...hhmmm, spooky :)... atmosphere in the place. But still...., it did not decrease our will to eat dinner in Gajah Wong.

We chose Gamelan Room to get the feel of Javanese ambiance. There were a set of Gamelan (Javanese Traditional Music) with the musicians sit in front of us.

As appetizer, I ordered an ordinary but delicious Cesar Salad, together with Lime Juice. That was perfect!

For the main course, I ordered Ranapekel (lamb chop with coconut rice, sambals and crackers)

It took five minutes for me to start eating. Damn! I really did not want to ruin the look of the food.
How about the taste? I give you one word. "FANTASTIC FANTASTIC FANTASTIC!"

Though my stomach was nearly exploded, I could not refuse to take Tiramisu as a dessert.
Slurrrpppp….. It was an unforgettable moment!.
You could feel a piece of tiramisu, automatically melt down in your mouth.

Want to try? Just ask the taxi driver to bring you to Gajah Wong Restaurant Jl Gejayan. I can assure you, at the end, you will experience the same thing like i did. SPLENDID!

27 Nov 2006

Iya, pertanyaan menjemukan!

Pertanyaan Menjemukan

Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini adalah pertanyaan yang benar-benar sulit untuk dihindari.

Sekolah dimana? –kalau home schooling, pasti orang-orang akan gak puas kalau kita jawab…saya sekolah dirumah.

Kuliah dimana? –kalau tidak kuliah karena gak punya uang atau malas kuliah karena paling gitu-gitu aja, lalu gimana? Selesai kuliah, pasti akan ditanya,

Kerja dimana? –kalau gak mau kerja atau kerja diluar kelaziman banyak orang seperti peneliti dsb, trus mau apa?

Pertanyaan paling menganggu adalah ketika kita berusia (yang bagi sebagian besar orang) sudah cukup umur untuk menikah.

Kapan menikah? –kalau gak mau menikah dan gak percaya dengan institusi pernikahan, menurut sampeyan gimana?

Tapi banyak orang termasuk saya akhirnya TERPAKSA melakoninya, Sekolah sudah selesai, kerja sudah punya, menikah juga sudah. Memangnya pertanyaan akan berhenti? Enggak Juga....akan ada lagi pertanyaan, yang meski cuma basa-basi tapi secara psikologis cukup meneror.

kapan punya anak? –punya anak itu bukan kodrat ya! Harus diingat, itu adalah pilihan, jadi kalau kita gak mau punya anak gimana donk?

Ntar masih ada lagi tuh pertanyaan lanjutan, kapan si sulung diberi adik? Huh....cape deh....

Siapa ya yang berani tanya saya, kapan kamu pimpin negara ini? Kalau pertanyaan ini diajukan, jawaban akan gue berikan dengan suka cita!

20 Nov 2006

Menyusup Misa di paroki X


Dua minggu lalu, demi sebuah keperluan yang maha penting, aku dan PGT memutuskan untuk ikutan misa. PGT, my lovely partner (luckily he isn’t a devoted catholic) kelihatan sedikit grogi. Ini bakal jadi kali pertamanya setelah bertahun-tahun tahun gak pernah menginjakkan kaki ke gereja.

“Puji Syukur” sebuah buku yang berisikan nyanyi-nyanyian akhirnya kami beli di toko buku GA setengah jam sebelum misa dimulai. Sebelum sampai, PGT juga menyediakan seribu rupiah buat Kolekte. Saat kutanya kenapa seribu, jawabnya singkat “gereja udah kaya”

Kami tiba pukul 5pm, persis sebelum misa dimulai. PGT ambil air suci (?) dan membuat tanda salib. Tadinya ia mengajak duduk didalam, tapi gue berhasil menemukan spot sejuk diluar pakai kursi plastik. Didalam sudah mulai penuh.

Dan dimulailah,

Aku lupa urutannya, pokoknya ada nyanyi, rata-rata sudah hafal meski ada juga penunjuk digital di dinding yang menunjukkan kita sedang menyanyikan lagu nomor berapa dari buku Puji Syukur itu. Lalu ada pengumuman-pengumuman….

Amat khidmat

Setelah beberapa saat, ada ceramah…PGT hapal, dia bilang “nah ini dia!....Saudara-saudara” pastor mengawali ceramahnya. Inti dari ceramahnya adalah mengenai seorang katolik yang hilang kekatolikannya ditengah perjalanan.

Pastor kasih contoh:

Ada sebuah cerita dimana seorang pemuda katolik mencintai seorang gadis, namun gadis itu tidak seiman dengannya. Sang pemuda karena amat taat akhirnya memutuskan tidak jadi menikahi gadis tersebut. Tapi akhirnya sang gadis bersedia berpindah iman dan menjadi katolik sehingga mereka berdua menikah. Lanjut cerita, mereka berdua kemudian berkeluarga. Kebetulan di kantor, lelaki ini jatuh cinta lagi pada sekretarisnya yang berbeda Iman, sehingga saking mabuk kepayangnya, lelaki ini pindah agama. Inilah yang disebut dengan seorang katolik yang hilang kekatolikannya ditengah jalan, ……………….(nilai sendiri ya heheheh, takut salah komentar ntar dikira SARA)

Lalu setelah ceramah selesai, ada sesi akan dibacakannya satu ayat suci dari alkitab. Terus semua orang bikin tanda salib di jidat, mulut dan hati. Ada juga ritual tangan yang menyembah (untuk ritual ini PGT gak mau ikutan), kalau gue sih pokoknya ikut-ikutan aja ahh….(ampe diketawain ama PGT) duduk, diri, duduk, bikin tanda salib, menyembah, masukin duit kolekte.

Terus menerima komuni (kalo ini gue gak berani maju ikutan, abisnya takut salah hihihi)

Dan usailah,

Apa ya….. Bukan bermaksud untuk bercanda dengan agama yang diyakini oleh banyak orang, tetapi selama ini gue berada di lingkaran orang-orang dekat (keluarga, sahabat dan teman2) yang bhineka. Maria Goretti, pernah jadi nama depan nyokap gue…. Bokap, di KTP Islam tapi sekolahnya katolik dari SD – SMA, dan shalat Ied juga baru 4 kali. Kayaknya bokap kejawen, walaupun pernah mengajari gue jadi Budha  Jadi, sah-sah aja tho kalau gue menyusup ke gereja hihihihi

Btw, PGT punya ide untuk mengasah terus kemampuan berbahasa inggris kami dengan cara mengikuti misa yang di khususkan bagi ekspatriat. Aku dah liat jadwalnya, dan salah satunya diselenggarakan di St Theresia hari Sabtu jam 4pm.

Aku terbahak, membayangkan di kotak kolekte nanti hanya akan ada dua lembar seribuan (dari aku dan PGT) di antara dolar dan uang puluhan ribu.

Oke siapa mau gabung menyusup?