Waktu masih SD mungkin gak terlalu pusing dengan hal ini semua, gue bisa sengawur-ngawurnya menjawab.
Hari ini idola gue bisa cuplis, keesokannya bisa soekarno atau einstein.
Motto dan cita-cita juga gak pernah punya. Berubah sesuai isi hati.
Begitu selanjutnya sampai SMP.
Waktu masuk sekolah menengah gue sudah merasa harus lebih hati-hati untuk hal ini. Sudah mulai banyak baca buku, belajar dan sadar bahwa mulut adalah senjata, pikiran adalah gudang senjata. Kata-kata yang keluar dari mulut adalah peluru.
Kalau ditanya orang soal idola, paling aman kalo gue jawab orang tua gue hehehehe
Motto masih contek peribahasa atau contek motto orang lain
Kalo soal cita-cita, sempat mau jadi dokter tapi mata pelajaran Kimia cuma dapat nilai 4. Mau jadi jurnalis tapi gaya menulis kayak isi diari begini. Ya sudah, paling aman ambil A1 (Fisika) karena nanti bisa pilih jurusan apa saja selepas sekolah.
Waktu kuliah, gue juga gak tahu kenapa ambil jurusan Pendidikan Bahasa Perancis. Kedengaran keren aja gitu, mmmh.
Cita-cita teman lain mau jadi diplomat sementara gue (karena melihat pesawat terbang lewat) mau jadi pramugari. Jadi tetap masih berubah-ubah tergantung hari itu apa yang kelihatan didepan mata gue.
Soal idola,
1989, Romo mangun yang bersetia dengan kedung ombo
1996, Megawati (luntur pada tahun itu juga)
dan gak pernah lagi punya idola sampai........
pada awal tahun ini gue nonton Indonesian Idol II.
Gila! Gue nge-fans berat ama JUDIKA (masih berlanjut sampai sekarang)
Tapi tetep gue masih gak punya motto hidup
Paling puool gue sering memacu diri sendiri dengan mengatakan bahwa kita ini mesin produksi, jadi mesti produktif. Semua harus dinilai berdasar produktifitas, bukan dari yang lain.
Cita-cita.....mmmmh apa ya? Masih belum nemu tuh dari sekarang. Pinginnya sih bahagia, tapi gak mau sendirian ceileee.
Nah, khusus soal idola ini lo.....
Gak pernah lah gue menyangka akan ketemu sama idola.
Jadi bisa kebayang khan kalo ketemu?
Tadi malam, gue ketemu JUDIKA di Sarinah Thamrin...
Berpapasan jalan dan gue cuma bisa berhenti melangkah, diam kaku.
1 menit gue tetap diam ditempat sambil meremas tangan teman dengan kuat. Gue cuma mampu berbisik...ada judika...ada judika.... terus wajah gue kayaknya berubah jadi merah dan tiba-tiba berkeringat. Padahal Jakarta baru saja diguyur hujan sehingga udara dingin banget. Perasaan hati, uhhh luar biasa.... kalah men jatuh cinta
Sekarang, gue akhirnya tahu betapa nikmatnya punya idola. Tapi kalo soal motto dan cita-cita, mungkin gue masih harus berpikir keras bagaimana untuk mendapatkannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar