20 Des 2005

Gue Parasit?

15 Desember 2005, Soekarno Hatta 05.30 am.

Demi memenuhi undangan dari sebuah lembaga pemerintah di Propinsi Sumut, gw rela berangkat pagi-pagi sekali menuju airport. Pesawat gue bkt jam 7 pagi dan kemarin karena gak sempat city check-in maka gue mesti jam 6 pagi ada dibandara.

Sudah beberapa waktu terakhir, gue selalu merasa mual kalo pergi keluar kota atau keluar negeri...apalagi kalo pake pesawat mahal kayak SQ atau GIA.
Merasa punya beban yang amat besar, karena tahu betul darimana asal duit buat beli tiketnya... hiks,
Kalo yang bikin acara pemerintah, maka duitnya berasal dari pajak rakyat.
Kalo undangannya dari lembaga donor internasional or even UN...duitnya pasti dari perusahaan-perusahaan raksasa yang jadi penyokong utama pelanggar HAM.
Yang jelas uang tiket gak pernah dari kantong gue sendiri,

Nah,
Waktu antri check-in, gue mengamati buanyak banget orang-orang yang jelas-jelas berasal dari NGO. Gampang kok dikenalinya. Mereka ini suka sekali memamerkan identitasnya sebagai ‘pekerja sosial’ misalnya, dari aksesoris-aksesoris yang mereka pake kayak emblem/logo di tas-nya, stiker di tas laptop-nya, pin di kaos-nya atau dari isi diskusinya dengan teman serombongannya.

Kebetulan, pesawat yang gue ambil tujuan akhirnya Aceh, dan transit di Medan untuk menurunkan beberapa penumpang (termasuk gue) jadiiii.... gue berani bertaruhlah...70 persen penumpang pesawat yang akan gue naiki ini berisi ‘pekerja sosial’
Tiba-tiba gue merasa jijik ama diri sendiri.
Malu, marah dan menjadi amat emosional.

Sinting!
Berapa rupiah masuk ke kocek garuda, ‘sumbangan’ dari para ‘pekerja sosial’ ini?
Kalau satu penumpang harus bayar 1 juta perak sekali jalan, maka 50 penumpang saja sudah 50 juta perak. Dan gak mungkinnn, kalo kami ini gak beli tiket pulang pergi......
UGH!,
ini sih cukup untuk bikin satu sekolah SD sederhana di daerah malimping Banten sana atau bayar gaji seorang guru di daerah terpencil selama 50 bulan. Atau berton-ton ubi untuk penduduk Yahukimo

Jadi teringat tulisan James Petras yang mengkritisi para ngo-ers ini. Aktifis-aktifis militan dan terbaik, diberi konsesi untuk mengikuti berbagai macam konferensi didalam atau diluar negeri sembari menenteng-nenteng laptop termahal sehingga lupa untuk bersentuhan dengan massa rakyat dan entah mengapa memiliki pendekatan yang tidak lagi progresif, kurang kritis dan menjadi hobi bekerja sama dengan pemerintah lokal in the name of partnership.

Lalu apa beda kita sama para penghisap darah rakyat miskin?

Sorry, Mungkin gue menjadi terlampau kaku dan negatif dalam memandang ini semua. Satu lagi, Gue meletakkan tanda kutip diatas phrasa pekerja sosial karena lagi-lagi merasa berdosa punya upah yang besar setiap bulan, diberi honorarium yang gede kalo jadi pembicara atau narasumber...huuh.
Dan gue tahu betul bahwa bukan gue saja yang mendapatkan situasi seperti ini. Gue juga miris waktu teman gue yang lulusan universitas luar negeri benar-benar ingin berbakti jadi pekerja sosial (karena emang udah kaya banget) malah dapat ‘honor’ bulanan 8 digit sebulan.

Btw, gue juga gak mau MENAFIKKAN adanya orang-orang yang benar-benar bersetia dan bersusah payah, serta mendedikasikan dirinya buat perjuangan dan menjadi pekerja sosial yang sesungguhnya....apa ya kata yang paling pantas buat mereka? Mmh...bravo dan salut!

finally,
Dulu... sambil terbahak-bahak gue selalu menuding-nuding kawan-kawan gw yang kerja di NGO sebagai parasit kaum borjuis dan parasitnya kaum proletar sekaligus. Pantas untuk dienyahkan!
Inilah kelompok masyarakat yang paling aman meski dalam hantaman badai krisis situasi politik atau ekonomi, karena tabiatnya yang oportunis sejati.

Sekarang...gw menangis.
Memikirkan bagaimana caranya membujuk diri gue sendiri dan kawan-kawan gue yang lain untuk menyumbangkan sedikit saja sumberdaya yang dimilikinya demi kemajuan **R***

Tidak ada komentar: