16 Mei 2006

Tentang Pengamen

Sekarang naik ojek dari tempat tinggal ke kantor tidak lagi jadi pilihan buat gue, alasannya sederhana….boros!

Naik bus AC 16 atau AC 11 atau AC 32 menjadi pilihan yang harus gw ambil, walhasil hanya dengan 4800 perak saja sudah sampai kantor. Petualangan naik bus ini sudah kujalani selama 1 bulan. Dampaknya ada sih….telat terus nyampek kantor karena gue gak merubah jam keberangkatan dari rumah  dan capeks.

Pada awalnya, agak sulit buat beradaptasi dari sebuah perjalanan yang cepat (ojek) ke sebuah perjalanan yang lambat (bus), rasanya sumpek dan selalu uring-uringan. Tapi, demi kamera digital…..gw relak untuk berkorban.
Sekarang gw sudah mulai mampu mengidentifikasi, bus nomor berapa saja yang kosong pada jam 8.30 saat melewati perempatan Mega Jl Pemuda.

Dari sekian banyak kejadian didalam Bus Kota, ada satu pengalaman yang menurut gue layak untuk diceritakan disini, pengalaman menjadi pemerhati pemusik jalanan (atau pemusik bis-an?)

Kalau naik AC 32,
biasanya pas naik sudah ada satu orang pengamen bergitar didalamnya yang menyanyikan lagu Indonesia terbaru, mulai dari lagu ADA band, Ungu, Samson dll. Selesai menyanyi dia akan krincing…krincing…didepan Toko Buku Rohani perempatan Tambak dan turun dihalte samping hotel Mega, gue kasih nilai 500 karena nyanyinya lumayan penuh penghayatan tapi sayang bau tubuhnya kurang sedap hehehe.
Nah, lalu gantian deh yang naik….pengamen berambut gimbal sama temannya yang suaranya gak bagus-bagus amat tapi penampilannya lumayan dah kayak pemusik senior. Terus dia akan turun, padahal cuma nyanyi 2 lagu (entah lagu apa) ditikungan blora….bareng sama gue, jadi gue kadang beri nilai 0 atau klo lg iseng maka akan gue kasih nilai 200

Kalau naik AC 11,
Didepan IKIP jl Pemuda atau di perempatan bypass, akan naik satu orang pemusik pake gitar kecil, bersuara bagus dan nyanyi 4 buah lagunya opik…. Sebenarnya ini gue mau kasih nilai 1000 untuk penampilan dan kemerduan suaranya, tapi karena yang dinyanyikan berkesan menggurui gitu…nilainya gue drop jadi 500 saja. Selanjutnya, ia akan turun didepan kantor PPP. Biasanya dari sana akan naik lagi 2 orang pemusik, pake rebana dan gitar kecil…..lagunya ya hampir sama dengan pemusik sebelumnya, penampilannya pun penampilan gurun pasir gitu, jadi agak pening untuk beri nilai…..menurut gue, kalau dia percaya Tuhan itu ada, biarkan Tuhan dia saja deh yang kasih nilai hehehe, gue sich angkat tangan

Kalau naik 16,
Dari depan IKIP akan ada satu orang bapak mirip Danarto pake topi pak Tino akan baca puisi, puisinya Sapardi Djoko kayaknya…. Nilai 500 deh untuk penampilan dan gaya berpuisinya yang aneh…. dia, akan turun didepan kantor PDI P dan biasanya gak ada krincing...krincing lagi setelah itu.

Begitulah ceritanya, Perjalanan yang tadinya amat membosankan mulai gw bangun dan bentuk untuk tidak menjadi membosankan.
Mengamati apa yang terjadi disekeliling kita ternyata menyenangkan. Sempat terpikir juga, kedepan mungkin gw akan mulai mengamati tingkah para penumpang di tiap bus yang akan gw naiki, sehingga perjalanan terus akan menjadi lebih menyenangkan….selalu menyenangkan.

Tidak ada komentar: