apa jadinya dunia ini...
jika tenggang rasa tidak pernah jadi sebuah nilai?
diurutkan dari tadi pagi,
demi menghindari konflik
kulakoni babak drama tenggang rasa
pertama, tenggang rasa terhadap pius tumangger karena:
bangun pagi tidak langsung membereskan tempat tidur, mau keluar kamar hanya menggunakan celana tidur saja dan mandi selalu nunggu dimarahi
kedua, tenggang rasa terhadap supir M04 karena:
berhenti lama di mardongan, lalu di pasar ampera... padahal satupun penumpang gak ada yang naik
ketiga, tenggang rasa terhadap pengamen karena:
main musik asal-asalan, gak ada estetikanya sama sekali
keempat, tenggang rasa terhadap direktur cetro karena:
meminta gue dengan mendadak untuk menghadiri diskusi terbatas lp3es
kelima, tenggang rasa terhadap koneksi internet yang lambatnya setengah mampus
keenam, tenggang rasa terhadap cuaca karena:
mencurahkan hujan seenaknya saja padahal gue pingin pulang cepat dan gak menghabiskan waktu untuk nulis sampah ini
Katanya semua adalah pilihan.
Kita bisa pilih yang paling baik. Tapi gue gak liat itu disini....
Gue bisa saja pilih gak tenggang rasa dan akhirnya mendamprat atau tantang kelahi buat orang-orang atau situasi yang tidak buat gue nyaman
atau
pilih menghindar dari (hari ini) keenam babak drama tenggang rasa itu dengan cara tidak satu rumah dengan monster ehh mister pius, tidak naik 04 tapi naik taxi atau ojek, tidak kerja dicetro dsb,
tapi pilihan lain yang gue ambil pun tidak berarti akan bebas dari problem serupa...
siapa yang bisa jamin kalo tidak tinggal dengan pgt, tidak naik 04 dsb maka gue bebas dari drama tenggang rasa?
enggak juga khan?
Namun demikian, yang namanya tenggang rasa ada batasannya.
Lalu siapa yang menciptakan batasannya?
tergantung......
kalo gue, sekarang sedang pakai batasan eksploitasi nilai lebih manusia dalam perkara tenggang rasa ini. Untuk satu ini, tiada tenggang rasa kayaknya.
Oh iya,
yang pasti gue lupa kapan gue diajarin untuk tenggang rasa...
dan pake media apa,
mungkin malam ini coba akan gue gali lagi....asal muasal nilai-nilai kebaikan (standar normatif tentunya dengan berbanding pada norma yang sudah dibuat...entah oleh manusia, atau entah oleh nabi, atau entah dari buah pemikiran siapa) yang TERSERAP dalam kepala gue hingga hari ini.
wadowwwww.....pusing

Tidak ada komentar:
Posting Komentar