
Tiga tahun lalu, dalam sebuah kereta api ekspress jabotabek menuju ke Bogor, saya dikejutkan oleh pertanyaan mendadak dari sahabat dekat, sebut saja Pius (hihihihh, ini sih nama asli).
"Gajimu berapa sebulan di C****?", hmmmm, saya berpikir sejenak, kok dia nanya itu siy.... tapi karena saya tahu sebagai aktivis gerakan pasti ada alasan baginya untuk menanyakan itu, maka saya jawab dengan jujur, "tiga juta".....
Dia menjawab "lumayan juga ya...". Dengan bersemangat aku jelaskan bahwa untuk level kerja sosial, gajiku lumayan besar karena dibeberapa lembaga sejenis, paling maksimal gaji hanya dua juta rupiahan.
Tapi tetap saja aku membatin, kok berani-beraninya manusia ini nanya gaji saya, maka kuberanikan diri untuk bertanya
"kok kamu nanya-nanya gaji sih? itu khan gak sopan?",
dengan enteng dia jawab, "loh emang kenapa?, aku sih cuek aja tanya ini ke semua teman, ada yang mau jawab, ada yang ngeles. Kalau tahu gaji kamu dan teman-temanku yang lain, khan aku bisa ngukur seberapa besar bantuan bulanan yang bisa kuminta hehehhe", pahit sekali senyum saya siang itu dengar jawaban dia.
Setelah saya memutuskan menikah dengan manusia itu, kebersamaan membuat saya sering mengikuti perbincangan dengan teman-temannya.
Dengan logat batak "Hey, lama tak jumpa, kerja dimana kau sekarang, berapa sudah gajimu???" itu pertanyaan yang sering banget aku dengar dari mulut pius.
Beberapa temannya, tentu saja menjawab dengan gaya diplomatis. "ah kau, aku sekarang kerja jadi buruh di HalliBur***...yang jelas cukuplah buat makan-makan traktir kau sekali-kali".
Saya yang berdiri disamping pius selalu terkaget-kaget kalau pius sudah mulai tanya gaji.
"Kalau kawan kita pius ini gimana kabarnya, dah kaya kow???" Biasanya temannya akan balas bertanya.
Lalu Pius akan menjawab dengan enteng dan tanpa beban,sambil tersenyum pulak "aku kerja di WA*** sekarang, dua juta perak sebulan, yah dicukup-cukupkan lah untuk hidup lebih baik...yahh, aku masih mengandalkan istrilah", mmmm, tercekat selalu rasanya kerongkongan kalau pius sudah jawab kayak gitu.
Entah kenapa, saking seringnya saya mendengar suami bicara jumlah gaji kalau bicara dengan saudaranya, keluarganya, teman-teman baiknya....saya jadi ketularan untuk mengetahui gaji orang-orang terdekat saya. TAPI .....sampai hari ini, dari sekian banyak orang yang saya tanya HANYA 2 orang yang menjawab jujur. Satu, berinisial DD, dan satu lagi berinisial DS. DS memperlihatkan slip gajinya, "aku dapat 1200 nggal", yah wajar aja....dah kerja 8 tahun dan posisinya tinggi jekkk, sementara DD menjawab "gue dapat 550", wah saya langsung ciut, soalnya dengan posisi yang sama saya dapat 700, 150 lebih tinggi dr dia. Langsung saya bilang "duh sori DD, mungkin karena pada saat masuk awal gue minta segitu". DD bilang, "gpp nggal, gue emang sudah bahagia dpt segitu". Sekarang DD sudah pindah kerja di UN***, dengan gaji yang lebih tinggi lagi, sementara gue???? (all in USD ya)
Mau tahu gaji saya sekarang.....??? rahasiaaaa
Cuma masih bingung saja, kenapa orang gak pernah bicara gaji seterbuka pius hihihihih.....mungkin takut menimbulkan kecemburuan sosial, atau mungkin karena malu (kayak gue???)
gak tau ah....pusyingg

Tidak ada komentar:
Posting Komentar