Tampilkan postingan dengan label Yang Mengganjal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Mengganjal. Tampilkan semua postingan

7 Jan 2008

Kasihan Para Suster

Meski saya tidak pernah merasakan dirawat oleh seorang suster, namun saya selalu yakin bahwa pekerjaan SUSTER adalah pekerjaan mulia.
Pekerjaan yang banyak didominasi oleh perempuan ini tidak hanya melibatkan kemampuan fisik, namun juga kemampuan psikis menghadapi kebandelan pasien-pasien.

Bahwa betul banyak kisah tentang suster-suster yang suka cuek sama pasiennya, tapi saya pikir pasti karena beban kerja yang berat sehingga energinya amat terkuras untuk memberi perhatian satu per satu kepada pasiennya.

Beberapa tahun lalu, saya lupa kapan tepatnya, salah satu film menampilkan hantu yang kemudian dikenal dengan nama suster ngesot. Dalam film tersebut, suster ngesot digambarkan sebagai seorang hantu perempuan dengan rambut terurai panjang, dengan seragam suster yang mini dan berjalan merangkak/ 'mengesot?'

Jika dulu saya lebih tertarik untuk mengetahui dari mana asal kata ngesot....(esot, gesot-kah?) dan tidak juga menemukan jawabannya, maka beberapa bulan belakangan ini, setelah melihat poster film "Film Horor Komplit" saya berpikir lebih serius tentang penggunaan salah satu profesi terhormat (tapi dibayar rendah) sebagai salah satu ikon hantu jejadian menyeramkan ini.

Saya berpikir, kasian betul ya orang-orang yang berprofesi sebagai perawat ini (btw, kalao suster itu cuma buat perempuan apa juga bisa buat laki-laki siyyy???....hehehehe), sudah kerjanya berat, gajinya murah, eh dijadikan komoditi film horor murahan pulak...

Kalau KUNTILANAK, ini nasibnya juga mengenaskan, Kalau ndak salah ia berasal dari seorang perempuan yang meninggal saat melahirkan bayinya....(tolong koreksi jika salah)...
Kalau memang benar begitu, sedih betul saya....
Ibu yang meninggal saat melahirkan, anak dalam kandungannya juga meninggal, DIOLOK-OLOK pula sebagai setan perempuan yang suka tertawa melengking......

Ternyata penindasan yang dialami perempuan, bukan hanya saat ia masih hidup ya....sudah mati pun masih pula ditindas.

Saya berharap segera ada perubahan mendasar dalam pola pikir dan tindakan kita semua (terutama industri hiburan), untuk tidak lagi mengeksploitasi jenis pekerjaan tertentu atau terlebih gender tertentu untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan menafikkan rasa kemanusiaan dan keadilan


Pak Harto, soeharto and The Dictator General Soeharto

What's in a name?
Shakespeare pernah berucap ini, bagi saya sekarang, what's in a title?.
Oh jelas, ini sangat berarti buat saya, amat sangat berarti apalagi menyangkut diktator nomor wahid di Indonesia.

Rasa-rasanya mau pecah kepala ini kalau reporter-reporter yang menayangkan siaran langsung tentang keadaan harto dengan menggunakan panggilan PAK Soeharto
"Pemirsa, saat ini PAK Harto masih menjalani perawatan intensif karena pembengkakan diseluruh tubuhnya" Speechless banget meeeennn.... siapa peduli???? selain orang-orang yang mencintainya dengan segenap perasaan karena terilusi dengan kebohongan yang digaungkannya puluhan tahun!

Bloody Hell!!!

Mega rasanya tidak pernah disebut IBU Mega, SBY rasanya jarang kudengar disebut PAK Susilo/Bambang/Yudhoyono. Hanya pers-pers asing saja rasanya yang sering meletakkan title terkeren dia, the dictator General Soeharto dalam penulisan beritanya

Buat saya, penyebutan panggilan merupakan bagian dari politik identitas!,

tolong hentikan sakit kepala saya ini!



27 Des 2007

Kenapa TABU bicara GAJI???


Tiga tahun lalu, dalam sebuah kereta api ekspress jabotabek menuju ke Bogor, saya dikejutkan oleh pertanyaan mendadak dari sahabat dekat, sebut saja Pius (hihihihh, ini sih nama asli).
"Gajimu berapa sebulan di C****?", hmmmm, saya berpikir sejenak, kok dia nanya itu siy.... tapi karena saya tahu sebagai aktivis gerakan pasti ada alasan baginya untuk menanyakan itu, maka saya jawab dengan jujur, "tiga juta".....
Dia menjawab "lumayan juga ya...". Dengan bersemangat aku jelaskan bahwa untuk level kerja sosial, gajiku lumayan besar karena dibeberapa lembaga sejenis, paling maksimal gaji hanya dua juta rupiahan.

Tapi tetap saja aku membatin, kok berani-beraninya manusia ini nanya gaji saya, maka kuberanikan diri untuk bertanya
"kok kamu nanya-nanya gaji sih? itu khan gak sopan?",
dengan enteng dia jawab, "loh emang kenapa?, aku sih cuek aja tanya ini ke semua teman, ada yang mau jawab, ada yang ngeles. Kalau tahu gaji kamu dan teman-temanku yang lain, khan aku bisa ngukur seberapa besar bantuan bulanan yang bisa kuminta hehehhe", pahit sekali senyum saya siang itu dengar jawaban dia.

Setelah saya memutuskan menikah dengan manusia itu, kebersamaan membuat saya sering mengikuti perbincangan dengan teman-temannya.
Dengan logat batak "Hey, lama tak jumpa, kerja dimana kau sekarang, berapa sudah gajimu???" itu pertanyaan yang sering banget aku dengar dari mulut pius.
Beberapa temannya, tentu saja menjawab dengan gaya diplomatis. "ah kau, aku sekarang kerja jadi buruh di HalliBur***...yang jelas cukuplah buat makan-makan traktir kau sekali-kali".

Saya yang berdiri disamping pius selalu terkaget-kaget kalau pius sudah mulai tanya gaji.
"Kalau kawan kita pius ini gimana kabarnya, dah kaya kow???" Biasanya temannya akan balas bertanya.
Lalu Pius akan menjawab dengan enteng dan tanpa beban,sambil tersenyum pulak "aku kerja di WA*** sekarang, dua juta perak sebulan, yah dicukup-cukupkan lah untuk hidup lebih baik...yahh, aku masih mengandalkan istrilah", mmmm, tercekat selalu rasanya kerongkongan kalau pius sudah jawab kayak gitu.

Entah kenapa, saking seringnya saya mendengar suami bicara jumlah gaji kalau bicara dengan saudaranya, keluarganya, teman-teman baiknya....saya jadi ketularan untuk mengetahui gaji orang-orang terdekat saya. TAPI .....sampai hari ini, dari sekian banyak orang yang saya tanya HANYA 2 orang yang menjawab jujur. Satu, berinisial DD, dan satu lagi berinisial DS. DS memperlihatkan slip gajinya, "aku dapat 1200 nggal", yah wajar aja....dah kerja 8 tahun dan posisinya tinggi jekkk, sementara DD menjawab "gue dapat 550", wah saya langsung ciut, soalnya dengan posisi yang sama saya dapat 700, 150 lebih tinggi dr dia. Langsung saya bilang "duh sori DD, mungkin karena pada saat masuk awal gue minta segitu". DD bilang, "gpp nggal, gue emang sudah bahagia dpt segitu". Sekarang DD sudah pindah kerja di UN***, dengan gaji yang lebih tinggi lagi, sementara gue???? (all in USD ya)

Mau tahu gaji saya sekarang.....??? rahasiaaaa

Cuma masih bingung saja, kenapa orang gak pernah bicara gaji seterbuka pius hihihihih.....mungkin takut menimbulkan kecemburuan sosial, atau mungkin karena malu (kayak gue???)

gak tau ah....pusyingg

20 Okt 2006

Barang Bermerk: Anya...apa ayooo

Tulisan ini terinspirasi oleh anya dan feliciani eh tiffany, terutama kepada DS dan AG yang membicarakannya dengan sangat menarik mesti gue kagak begitu mengerti hihihih

Huh sayang (atau untung?), perkara merk-merk terkenal dan istilah-istilah mode terkini nampaknya luput dari serapan isi kepala gue yang beberapa tahun ini mulai selektif dalam memilih dan menyimpan kata-kata dalam ingatan.

Huayo, siapa diantara kita yang dari kecil pernah mengidamkan barang tertentu, lebih karena merk-nya bukan karena fungsinya?

Mmmh, gue angkat tangan nomor satu ahhh!

Waktu masih kecil, saat gue masih rajin-rajinnya nulis diary...gue amat iri dengan tetangga gue yang selalu memamerkan tentang diary sanrio-nya....duh rasanya gimana gitu kalau gue gak bisa memilikinya...akhirnya gue berhasil maksa nyokap untuk belikan Hello Kitty, sanrio yang kemudian bisa membuat gue menjadi salah satu gadis kecil terkaya di dunia. Padahal, diary gue yang bermerk AA, tebelnya sepuluh kali lipat dan enak untuk dicorat-coret, walhasil karena diary hello kitty- sanrio gue terlalu harum dan bagus untuk ditulisi, ampe hari gini tu diary masih kosong donk...(kemarin gue cek di laci baunya dah apek)

Kali kedua adalah soal baju, waktu masih SD...tante gue yang istri om gue :D mengajak jalan ke sarinah untuk belanja baju. Sepupu gue (yang sekarang jadi direktur NGO di Jogja), dengan mantap langsung memilih "aku RED AND WHITE ajah", sibuk berpikir nih....kok mau lebaran malah beli baju agustusan???.... tapi aku baru ngeh kalau ternyata itu adalah merk baju anak kecil. Sementara, aku sibuk memilih tanpa pusing-pusing ama merk baju.

Kali ketiga saat gue mulai remaja SMP....sepatu, tas, jam.... semua teman mulai sibuk berceloteh soal merk. Gue, -curiga mungkin karena kemiskinan- lagi-lagi gak terlampau peduli. Tapi apa boleh buat, karena gue suka lari, gue akhirnya mengidamkan punya sepatu NIKE (yang terus cuma jadi idaman). Untuk tas, mungkin krn lingkungan gaul gue gak juga tajir2 amat, pada saat itu punya tas benetton aja dah fantastis, tentu juga gak gue miliki dong....karena tas ALPINA dan ELIZABETH aja dah buat gue bangga :D. Kalau jam tangan, berhubung nyokap suka SEIKO, anaknya pun dibelikan SEIKO...meskipun gue mengiba-iba minta dibelikan ESPRIT.....kata nyokap gue, mau seiko kek, mau esprit kek, mau rolex kek...yah kalo jam tiga...ya semua jam juga jam 3 aja (mode: garuk-garuk kepala)

(lanjutannya besok-besok lagi ya...mau bukber nih di vietopia)

yak lanjut.....

Masa SMA ternyata memperparah kondisi Merk Minded gue. Selain Jam, Sepatu dan Tas, saat itu merembet juga ke merk baju. Untungnya gue lebih senang kaos, dan rasanya dulu dah pede aja kalau pakai celana Lee Cooper, kaos Hammer dan CF. Meski cuma punya satu biji each, tapi lumayanlah....

Untunglah selanjutnya gue kuliah di UNJ (was IKIP) dan gaul ama anak-anak senirupa dan sastra Indonesia yang kucel-kucel, jadi tentu aja gak ada lagi yang membuat gue teringat apalagi memikirkan barang-barang bermerk. Pada saat itu, kayaknya yang penampilannya paling busuk adalah yang terkeren kok, jadi gue tampil sebusuk-busuknya deh :))

terus, ditambah lagi gue kemudian gabung sama prd.... yah....ini lagi, mungkin gue akan jadi orang paling ajaib deh kalau ributin soal merk hihihii. Tapi....apakah hal ini berlanjut hingga kini?

Kayaknya gue menjadi gak terlampau peduli deh sama baju, sepatu, dan tas bermerk, karena jadi lebih maniak beli buku-buku keluaran ZED BOOKS and MONTHLY REVIEW PRESS.

But somehow, gue pikir gak berubah juga sih....cuma menjadi berbeda. Kalau dulu ama merk tas, baju, sepatu tapi sekarang ama merk-merk GADGET....Mmm, coba gue list yg ada di tas ransel gue, PDA Hewlett Packard, HP NOKIA, DELL Latitude D620, Kamera NIKON....loh kok berMerk semua?, ini pertanyaan ujiannya, apakah GUE bisa kalau pakai Merk lain?

hehehehe, kayaknya enggak deh buat merk yang lain....

Padahal tadinya gue sudah mulai mau pede nih menganggap diri gue termasuk golongan Fungsional tapi kayaknya kalau begini enggak jadi deh. Wong gilanya ama merk teteup kok, cuma berubah aja orientasinya.

Hebat juga nih budaya konsumerisme....malu juga sih terperdaya sama industri periklanan.

Jadi gimana donkkkkk......

27 Mei 2006

Tentang Tenggang Rasa

apa jadinya dunia ini...

jika tenggang rasa tidak pernah jadi sebuah nilai?

diurutkan dari tadi pagi,
demi menghindari konflik
kulakoni babak drama tenggang rasa

pertama, tenggang rasa terhadap pius tumangger karena:
bangun pagi tidak langsung membereskan tempat tidur, mau keluar kamar hanya menggunakan celana tidur saja dan mandi selalu nunggu dimarahi

kedua, tenggang rasa terhadap supir M04 karena:
berhenti lama di mardongan, lalu di pasar ampera... padahal satupun penumpang gak ada yang naik

ketiga, tenggang rasa terhadap pengamen karena:
main musik asal-asalan, gak ada estetikanya sama sekali

keempat, tenggang rasa terhadap direktur cetro karena:
meminta gue dengan mendadak untuk menghadiri diskusi terbatas lp3es

kelima, tenggang rasa terhadap koneksi internet yang lambatnya setengah mampus

keenam, tenggang rasa terhadap cuaca karena:
mencurahkan hujan seenaknya saja padahal gue pingin pulang cepat dan gak menghabiskan waktu untuk nulis sampah ini

Katanya semua adalah pilihan.
Kita bisa pilih yang paling baik. Tapi gue gak liat itu disini....
Gue bisa saja pilih gak tenggang rasa dan akhirnya mendamprat atau tantang kelahi buat orang-orang atau situasi yang tidak buat gue nyaman
atau
pilih menghindar dari (hari ini) keenam babak drama tenggang rasa itu dengan cara tidak satu rumah dengan monster ehh mister pius, tidak naik 04 tapi naik taxi atau ojek, tidak kerja dicetro dsb,
tapi pilihan lain yang gue ambil pun tidak berarti akan bebas dari problem serupa...
siapa yang bisa jamin kalo tidak tinggal dengan pgt, tidak naik 04 dsb maka gue bebas dari drama tenggang rasa?
enggak juga khan?

Namun demikian, yang namanya tenggang rasa ada batasannya.
Lalu siapa yang menciptakan batasannya?
tergantung......
kalo gue, sekarang sedang pakai batasan eksploitasi nilai lebih manusia dalam perkara tenggang rasa ini. Untuk satu ini, tiada tenggang rasa kayaknya.

Oh iya,
yang pasti gue lupa kapan gue diajarin untuk tenggang rasa...
dan pake media apa,
mungkin malam ini coba akan gue gali lagi....asal muasal nilai-nilai kebaikan (standar normatif tentunya dengan berbanding pada norma yang sudah dibuat...entah oleh manusia, atau entah oleh nabi, atau entah dari buah pemikiran siapa) yang TERSERAP dalam kepala gue hingga hari ini.

wadowwwww.....pusing